Datang dan Pergi

Alfonso pria yang mengisi hatiku sejak 3,5 tahun lalu kini datang kembali ke kehidupanku. Masih kuingat bagaimana kami berkenalan dulu dan dia adalah pilihanku dari sekian banyak pria yang ingin kukenal dan menjadi spesial dalam hidupku. Saat itu aku merasa yakin bahwa Alfonso adalah pria baik yang akan mengisi hari-hariku namun saat pertanyaanku tak dijawabnya sesuai yang kuinginkan maka aku berusaha untuk menjauh dari hidupnya. Ada perbedaan mendasar yang membuat kami tidak mungkin bersatu dan karena aku pernah menjalani hubungan dengan pria yang juga berbeda maka aku putuskan untuk mundur dari hidupnya. Aku berusaha kejam didepannya walaupun sakit saat dia menangis memintaku untuk mengisi harinya. Andai dia tahu, jawaban itu sangat penting bagiku, dia pasti setuju dengan apa yang aku perbuat padanya 3,5 tahun yang lalu. Alfonso pernah menusuk hatiku saat dia "memamerkan" wanita barunya dihadapanku, menggandeng tangannya, memeluknya, dan seakan tersenyum bahagia saat dia bisa menemukan "sesosok" wanita baru yang dianggapnya lebih baik dariku. Hatiku hancur saat itu, berusaha tersenyum dihadapan mereka tetapi sebenarnya hatiku menangis tetapi sudahlah, nasib sudah menjalankan tugasnya atas kami, kami hanya bisa menerima bahwa kami tidak mungkin bisa bersatu lagi dan aku berjanji untuk tidak mengganggu hubungan mereka, kebahagiaan mereka.

Aku berusaha melupakan Alfonso karena bagiku dia sudah sangat kejam atas semua perbuatannya padaku. Namun dia datang dan pergi sesukanya dalam kehidupanku. Seperti sekarang ini, Alfonso datang lagi untuk mengisi hatiku. Perasaan yang sudah begitu lama aku pendam kini seakan membara lagi, selama 3,5 tahun aku tidak pernah melupakannya, aku selalu mengikuti semua perkembangannya dengan "wanitanya". Aku tahu kalau mereka sudah tidak berhubungan dan aku pun tahu kalau Alfonso sudah berhenti dari pekerjaannya yang dulu. Dia datang dengan keadaan yang berbeda, tubuhnya tidak sekekar dulu, dia tampak kurus, matanya sayu dan mengisyaratkan kalau dia sudah tersakiti. Aku berusaha tegar saat dia menyapaku lagi, namun hasrat untuk memeluk dan menciumnya sangat kuat datang dari dalam diriku. Ada perasaan kecewa dan takut menghembus pikiranku, kenapa dia baru datang sekarang? Kenapa setalah dia berakhir dengan pasangannya baru muncul lagi dihadapanku? Adakah dia ingin mempermainkanku? Ataukah aku hanya dianggap cadangan cintanya? Begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku dan itu membuatku harus meneguk Neuralgin LAGI pada malam pertama kami bertemu.

"Hai, apakabarmu?" itu kalimat pertama yang dia lontarkan padaku. Dan aku hanya bisa  membalasnya dengan tersenyum. Kami bertemu di tempat pijat langganannya karena dia baru saja melakukan perjalanan jauh. Kami tampak canggung sesaat dan kemudian aku berusaha biasa saja dihadapannya. Bagaimana keadaanku? Apakah aku oke didepan dia? Itu yang membuat hatiku berdesir karena aku ingin tampak indah dimatanya. Dari kantorku aku langsung melaju ketempat pijatnya waktu itu dan menunggu kurang lebih 1,5 jam baru akhirnya dia keluar dan aku bahagia saat bisa melihatnya langsung dan sangat ingin menyentuhnya, menangis dalam pelukannya, dan marah karena tidak pernah memberi kabar padaku. Namun kuurungkan semuanya itu karena aku tahu siapalah aku sekarang didalam hatinya, apalah aku dibanding dengan teman wanitanya, aku tak pantas untuk melakukan itu karena dihidupku sudah terisi dengan pria yang sudah sangat baik padaku. Namanya Tobias, paling tidak di tahun pertama kami pacaran adalah waktu yang sangat indah dalam hubungan kami. Tobias berubah sejak ada duka yang menimpaku. Aku tidak tahu apa alasannya berubah sika padaku, namun aku selalu meyakinkan hatiku bahwa Tobias adalah pria yang baik dan akan selalu menjagaku, namun semakin aku paksakan hatiku untuk meyakini itu aku selalu merasa ingin mengubur semua kenangan manis kami.

Aku dan Alfonso bertemu kembali keesokan harinya. Aku membantunya untuk mengurus beberapa berkas kerjanya dan aku sangat senang bisa membantunya. Aku bisa dekat dengannya, menggenggam tangannya, memeluknya, mengecup keningnya, dan menghirup aroma tubuhnya. Aku ingin menghafal semua itu, menghafal lekuk tubuhnya, raut wajahnya, cara bicaranya, kedipan matanya, dan aroma tubuhnya yang membuatku selalu berdesir. Aku ingin mengingat semua tentang Alfonso. Kebersamaan kami siang itu terkesan singkat karena kami harus mengurus semua berkas dengan cepat dan aku harus segera kembali ke kantorku sebelum sore hari.  Kami berpisah hari siang itu, hanya dengan pelukan tanpa kecupan dipipi atau keningku. Kami berpisah di depan mobil masing-masing, setelah dia memelukku, aku pun masuk ke dalam mobil dan begitu juga dengannya. Aku biarkan dia pergi lebih dulu, aku ingin melihat bagaimana caranya, apakah dia akan membuka jendelanya dan memberikan aku senyuman?  Dan Ternyata tidak, aku kecewa karena dia hanya menginjak gasnya dan pergi begitu saja. Ya, sekali lagi aku yakinkan hatiku bahwa siapalah aku ini sekarang dihatinya, aku bukan siapa-siapa, aku hanya wanita yang pernah menyakitinya, paling tidak itu yang dia rasakan padaku karena dia selalu mengatakan kalau dia pernah sakit hati dan kecewa padaku walaupun au tidak pernah mendapat penjelasan pasti darinya sebenarnya apa kesalahanku itu.

Siang itu kami berpisah, dan aku tidak tahu entah kapan lagi bisa melihatnya. Paling tidak beberapa saat aku bisa memeluknya dan berada disampingnya walaupun aku masih merasa canggung dengan itu semua.

 

 
 
 
 

 
 
 
 
Title website anda
Pilihan Bahasa